Skip to content

Mirror Site AHB

March 29, 2010

untuk mempermudah proses upload dan mempercepat dowload website AHB, maka semua page dalam situs ini sudah dipindahkan dan diupdate pada alamat ini AHB

klasifikasi PLTMH

February 2, 2010

Klasifikasi PLTA

Pertanyaan berapa batasan daya terbangkit PLTMH adalah pertanyaan paling sering muncul dalam diskusi seputar pembangkit listrik tenaga air. Klasifikasi PLTMH pada awalnya bukan didasarkan pada kapasitas pembangkitan, tetapi merupakan pemahaman dan pendekatan baru pemanfaatan energi potensial air menjadi energi mekanik poros atau listrik untuk masyarakat perdesaan terpencil di negara-negara belum berkembang. Pemahaman klasifikasi PLTMH dalam PLTA harus ditarik mundur dari sejarah berkembangnya PLTMH, yaitu ketika sekelompok insinyur di negara maju yang prihatin dengan masyarakat di negara miskin yang belum memperoleh layanan listrik, padahal di sekitar mereka tersedia sumber energi potensial air yang berlimpah.

Para insinyur yang peduli terhadap masalah ini umumnya bergabung dalam sebuah lembaga non-pemerintah (NGO) yang bertujuan memberikan bantuan teknis, seperti ITDG Ingris, VITA America, SKAT Swiss, GATE Jerman, dsb. Mereka mencoba untuk menyederhanakan mesin, persyaratan, prosedur, metoda, desain, pendekatan sosial, dan investasi lebih murah agar pembangkit listrik tenaga air dapat diterapkan oleh masyarakat yang memiliki keterbatasan tenaga ahli, material, dan modal investasi. Mereka melakukan kajian desain PLTA yang berlaku (biasanya untuk PLTA Besar), disederhanakan agar masyarakat di negara belum maju dapat membangun dan memanfaatkan PLTA dengan tetap memenuhi syarat keamanan teknis.

Salah satu pendekatan teknis yang dilakukan adalah penggunaan sistem run-off river yang tidak membutuhkan dam tinggi. Dengan demikian persyaratan teknis yang harus dipenuhi tidak akan setinggi dan serinci pada persyaratan PLTA dengan bendungan besar. Sistem run-off river hanya membutuhkan weir untuk mengalihkan air sungai, sebagai penyadap menuju saluran pembawa. Dengan demikian tidak dibutuhkan survey geologi yang mendalam seperti survey geolistrik dengan biaya mahal. Demikian juga kontruksi weir dengan ketinggian kurang dari 2 meter tidak membutuhkan desainer dam khusus dan pekerjaan konstruksi dam dapat dilakukan oleh tukang bangunan setempat. Dengan kapasitas pembangkit yang kecil, maka persyaratan mekanik turbin, instalasi listrik, kontroler, dan aspek teknik lainnya akan lebih sederhana dan tidak perlu setinggi persyaratan pada PLTA skala besar.

Selain dari itu sistem run-off river tidak membutuhkan genangan air yang luas sehingga isu dampak lingkungan pada bendungan besar tidak ada dalam sistem ini. Sistem run-off river memberikan alternatif pembangkitan daya tersebar dan dapat dibiayai serta dimiliki oleh masyarakat lokal. Pendekatan pembangunan PLTA tanpa bendungan berbeda dengan PLTA besar dengan bendungan yang memperoleh kritik resiko lingkungan dari berbagai pihak. Untuk membedakan dengan pembangkit listrik tenaga air skala besar, maka pembangkit listrik dengan sistem run-off river, tanpa waduk (dam), dan umumnya berskala kecil disebut Micro Hydro Power (MHP) dan diterjemahkan menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Sebuah terjemahan yang tidak tepat, tetapi sudah terlanjur populer.

Dalam perjalanan sejarahnya, PLTMH memperoleh popularitas sebagai sistem pembangkitan listrik tenaga air yang tepat guna (appropriate technology) dan ramah lingkungan. Banyak kelompok yang menentang pembangunan PLTA , dan mereka lebih menganjurkan menggunakan PLTMH. Dukungan mereka terhadap PLTMH dengan alasan PLTMH tidak menggunakan dam tinggi sehingga resiko bencana lebih kecil, tidak membutuhkan genangan yang luas sehingga tidak menimbulkan dampak lingkungan yag merugikan, dapat dioperasikan dan dipelihara lebih mudah sehingga masyarakat lokal dapat membangun, mengelola, dan memanfaatkan sumber daya air untuk kesejahteraan penduduk setempat. PLTMH adalah media dan alat untuk mengembangkan kemampuan masyarakat dalam memperbaiki kualitas dan harkat hidupnya.

Dengan demikian PLTMH bukan sekedar ukuran kapasitas sebuah pembangkit daya, tetapi lebih pada sebuah gerakan sosial, sebagai bagian dari pemahaman teknologi tepat guna (approprite technology) dalam kerangka pengembangan masyarakat (community development). Oleh karena itu pembangunan PLTMH yang tidak memberdayakan penduduk lokal, apalagi tidak melibatkan pastisipasi aktif masyarakat bukanlah pembangunan PLTMH (Hydro Power for Empowering People)

Pada awal tahun 70-an, PLTMH mulai dikenalkan di berbagai negara di Asia, seperti Srilangka, Bangladesh, dan juga Indonesia. Setelah terpasang beberapa instalasi PLTMH, ternyata secara  statistik kapasitas pembangkitan dengan skema PLTMH berkisar antara 1 kW hingga 100 kW, dan dari data ini maka PLTMH diklasifikasikan sebagai PLTA dengan kapasitas daya listrik tidak lebih dari 100 kW. Tetapi kebanyakan penggiat PLTMH sepakat bahwa kapasitas pembangkit bukan batasan penggunaan PLTMH, jika prinsip-prinsip dasar PLTMH dapat dipenuhi maka istilah PLTMH masih dapat digunakan walaupun kapasitas pembangkit lebih dari 100 kW.

Pada kenyatannya memang persyaratan teknis PLTMH bergantung pada kapasitas daya pembangkit. PLTMH dengan daya lebih dari 100 kW membutuhkan perencanaan yang lebih mendalam, menuntut pembutan turbin yang lebih presisi,  menggunakan kontroler yang lebih baik sehingga kehandalan instalsi PLTMH dapat beroperasi kontinyu, dengan kualitas listrik lebih baik.